PERJALANAN - Pendakian Horror Gunung Slamet ( Part 2 )

 PERJALANAN


Mereka berkumpul, Packing, dan

mempersiapkan bekal jasmani rohani

di rumah Feno untuk menuju ke

Gunung Kemulan.

Setelah itu mereka melanjutkan

perjalanan menuju Gunung Kemulan.

Menuju ke sana jalan sangat susah

ditempuh medanya juga berbahaya,

sebenarnya bapaknya Feno

menyarankan untuk tidak mendaki ke

gunung kemulan karena berbahaya.

Tetapi Feno dan kawan kawan tetap

berangkat tanpa ijin kesana.

Ntah apa yang terjadi nanti.


Setelah perjalanan melewati jalan

pegunungan menembuh jarak

yang lumayan jauh, berkelok-kelok

menyusuri punggungan dan lebatnya

perkebunan. Menggunakan mobil

angkutan bak terbuka, siang itu mereka

sampai di suatu pertigaan jalan menuju

desa terakhir dikaki gunung Kemulan.


"Huuft akhirnya sampai juga, walaupun

jalannya banyak yang rusak dan sangat

melelahkan, tapi perjalanannya asyik

juga..." ujar Feno sambil melompat dari

mobil yang dicarternya.


"lyaa, walaupun ini masih satu

kabupaten tapi baru kali ini aku

kesin..." ujar Subhan.


"Yaudah yuukk, turun-turunin barang

bawaannya..."ajak Arga.


Setelah membayar mobil yang

mengantar mereka, mereka pun

melanjutkan perjalanan dengan

berjalan kaki memasuki jalan kecil

menanjak menuju desa Sengari, desa

terakhir sebelum memasuki gunung

Kemulan.


Sore itu, sekitar pukul 15.30wib

sampailah mereka di desa yang dituju,

desa yg sangat terpencil dengan akses

jalan yang menanjak dan rusak, di desa

inipun hanya berdiri beberapa rumah

yg letaknyapun cukup berjauhan,

menurut info desa ini dihuni sekitar

70 kepala keluarga yg terdiri dari

beberapa dusun, saat mereka

memasuki gerbang desa suasanya

sangat sunyi, hanya suara deringan

serangga gunung yg mendering-dering.


"Maafbu, mau numpang tanya....

rumahnya pak kades dimana yaa... ???"

Tanya Feno pada seseorang yang

kebetulan lewat.


"Ooh iyaa rumah pak kades ada di

sebelah sana, jalan ini lurus nanti diatas

tanjakan itu ada rumah menghadap

ke selatan, itu rumahnya mas." jawab

orang itu penuh keramahan.


"Baik, makasih yaa bu..."jawab Feno

dengan senyum khasnya.

Merekapun bergegas menuju rumah

pak Kades.


"Tok tok tok...!" "Assalamualaikum.."

Subhan mengetuk pintu.

Tak lama kemudian ada seorang

ibu-ibu membukakan pintu rumahnya.

"Wa'alaikumsalam..."jawab itu itu

sembari membuka pintu.

"Maaf bu, apa bener ini rumah pak

kades..." tanya Feno.

"Tya bener, silahkan masuk.. bapaknya

masih didalem baru mandi... nanti saya

pangilkan dulu... " ucap ibu itu sambil

mempersilahkan masuk.

"Baik bu."ucap Feno dan

kawan-kawan.

Tak lama kemudian nampak seorang

bapak-bapak yang belum terlalu tua

datang menemui mereka, bisa ditebak

bapak itu adalah pak kades.

"Monggo diminum dek airnya..." ucap

pak kades sembari duduk.

"Baik pak baik pak"jawab mereka

serentak.


"Kok tumben adek-adek ini datang

bertamu ke desa kami, ada keperluan

apa yaa... ??? Dari mana asal adek-adek

ini.. ???" Tanya pak kades membuka

pembicaraan.

"kami dari kota madya pak, kami kesini

Cuma pingin jalan-jalan aja pak...???"

Ucap Rio sambil terbata-bata.

"O0.. gitu thoo... silahkan saja

jalan-jalan ke desa kami, disini

memang jarang ada orang pendatang

jadi kadang warganya agak risih dan

terkesan malu-malu, tapi sebenarnya

mereka baik-baik kok, dan kami sangat

senang jika ada yang datang berkunjung

ke desa kami... atau kalo gak keberatan

kalian bisa kok menginap di rumah

ini.. "jelas pak kades panjang lebar.

"lyaa makasih pak, tapi maksud

kedatangan kami kesini mau minta izin

untuk mendaki gunung kemulan pak..

ucap Feno menjelaskan.


"Apa...??? Maksudnya mau mendaki

gunung Kemulan... ??? Tapi disana penuh

bahaya dek... bahkan kami-kami ini

jarang ada yang berani kesana, terlalu

angker dan berbahaya nak.." jelas pak

kades dengan nada heran.

"Tapi pak, kami sudah persiapkan

perlengkapannya pak, Insya'Allah kami

baik-baik saja pak... kami juga sering

mendaki gunung kok pak.. " bujuk Feno.

"Bukan aku gak mengizinkan dek, tapi

menurut kami ini sangat berbahaya,

hutan disana jarang dijamah, bahkan

jalan setapakpun masih belum ada

menuju ke puncak, dan disana ada

yang namanya hutan larangan, hutan

yang sangat keramat... aku takut kalian

kenapa-napa disana... "jelas pak kades

penuh kekhawatiran.

"Kami sudah perhitungkan semuanya

pak, kamijuga sudah minta izin dari

kampus dan kepolisian di tempat kami

pak.."bujuk Rio.


"Baiklah kalau begitu, semoga kalian

baik-baik saja, karena aku yakin kalian

punya skill dan pengetahuan yang baik..

tapi aku sarankan sebaiknya malam

ini kalian tidur disini dulu, soalnya

hari sudah sore nak.."ucap pak kades

menawarkan rumahnya.

"Maafpak takut merepotkan, dan juga

rencananya kami akan mendirikan

tenda saja di daerah danau tak jauh

dari pintu hutan.." Arga menjelaskan.

"baiklah kalau begitu, saya hanya

bisa berpesan, baik-baik diperjalanan,

jangan neko-neko bersikaplah sopan

walaupun mungkin disana gak ada

orang..." pesan pak kades.

"Baik pak, sebelum kesorean, kami

pamit dulu pak..."jawab mereka

serentak.



Setelah pamit dan merapikan

barang-barang bawaan, mereka

melanjutkan perjalanan dengan

menyusuri jalan dusun dan dilanjut

jalan setapak melewati ladang-ladang

penduduk.

Setelah perjalanan yang cukup

melelahkan, karena dari batas

kampung jalan sudah sangat terjal dan

menanjak, melewati sawah dan ladang

penduduk.

"Huuft,, walau meelahkan namun

pemandangannya sangat indah.."

ucap Arga dengan nada lirih sambil

menghela nafas.

Hari itu nampak sudah sangat sore,

mereka terus berjalan menuju batas

hutan.

Sesaat sebelum memasuki hutan,

tiba-tiba mereka dikejutkan oleh

seorang kakek tua renta yang berdiri

diatas batu besar tepat dipunggir jalur.


"Mau kemana hai anak muda... ???"

Tegur kakek misterius itu.

Serentak semua terkaget bukan

kepalang, bahkan Ratih sempat hampir

terpental saking terkejutnya.

"A'aa anu anu, kami kamii mau puncak

gunung Kemulan kek.." ucap Feno

dengan nada terbata-bata.

"iiiyaa kek kami mau masuk hutan.."

Arga menimpali dengan nada

ketakutan.

"TUNGGU..!! Tunggu dulu.!!! Kalian

tidak boleh masuk hutan ini, ini hutan

larangan.. Pergii...pergi.. pergii

kalian dari sini... ini sangat berbahaya

buat kalian..."ucap kakek misterius

dengan nada menghardik.

"Tapi kek, niat kami baik kek, kami

tidak ada maksud apa-apa... " ucap Feno

menjelaskan.

"Tidak, aku tidak akan mengizinkan

kalian masuk, kalian bisa celaka...!"

Terang kakek misterius.


Tolong kek, hari sudah mulai gelap,

tolong izinkan kami memasuki hutan,

kami ingin bermalam di dekat danau

tak jauh dari sini, karena menurut

informasi tak jauh memasuki hutan

disana ada danau yang sangat jernih

dan indah.. " Feno membujuk.

"Aku peringatkan sekali lagi pergii..

pergiii kalian dari sini...!" Hardik

kakek misterius itu.

"Tapi kek, tolong..." Dea mencoba

memohon.

"Tidak, jika kalian nekat memasuki

hutan ini, dan bermalam didekat danau,

aku pastikan besok pagi kalian sudah

menjadi mayat yang tak bernyawa...

Dan sekarang kalian harus pergi dan

pulanglah, jika kalian tidak ingin

menyesal...!!!" Kakek itu mengusir.

"Sal, ada baiknya kita urungkan

niat kita, sepertinya kakek ini tidak

main-main..." Subhan berbisik

membujuk Feno sambil menarik

tangannya.


Tidak Han, aku yakin kakek ini orang

gila, lihat pakaiannya semua sudah

rombeng.. "bisik Feno pada Subhan.

"Hai lancang sekali mulutmu anak

muda, aku tegaskan sekali lagi, jika

kalian nekat memasuki hutan ini,

kalian tidak akan selamat...

Didalam hutan sana setelah

melewati danau kalian akan

dihadang ular yang besar, makin ke

dalam disana kalian akan dihadang

ribuan ular yang berbisa, jika makin

menjauh memasuki hutan kalian

akan menemu air terjun sakral,

yang airnya sangatjernih tempat

para bidadari dan dewa mensucikan

diri..

Dan dari situlah perjalanan kalian

akan menanjak melewati hutan

berlumut dan berkabut tebal, mataa

kalian akan tertutup kabut pekat,

hingga untuk saling memandang

diantara kalian saja tidak akan bisa,

disanalah tempat iblis dan dedemit

bersarang..


Kalian juga akan menemui

jurang-jurang yang dalam dan

bukit-bukit yang berlapis, disana

tempat hidup para macan kumbang

dan binatang buas lainnya...

Dan apabila kalian memang

sanggup menggapai puncak, disana

hanya kau temui ujung yang sangat

sempit yang dikelilingi jurang yang

dalam dan anginnya sangat kencang

bak badai di neraka. Bahkan kalian

akan sulit menemuijalan kembali

dan akhirnya tersesat dikegelapan

hutan.

Aku yakin kalian tidak akan bisa

selamat dariperjalanan itu, keculai

jika kalian memang orang-orang

sakti... hahahhaaa..."jelas kakek itu

dengan suara yang berkumandang bak

malaikat pencabut nyawa.

Tak lama kemudian kabut datang

dengan angin yang sangat kencang,

dan anehnya kakek itu menghilang

seketika seakan melayang bersama

kabut yang datang.


Karena kejadian yang barusan

mereka alami, mereka memilih untuk

menginap terlebih dahulu di rumah

pak kades, dan sambil memikirkan

matang matang akan melanjutkan

perjalanan atau pulang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita pendakian gunung Arjuno via sumberbrantas cangar